
Simalungun, 12 Maret 2025. Panitera Pengadilan Agama (PA) Simalungun H. Hasbin, S.H. menyampaikan Tausiyah Ramadhan yang dilaksanakan setelah shalat Dzuhur berjamaah di mushollah Al Hikmah PA Simalungun. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ketua, hakim, seluruh aparatur PA Simalungun. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan mengenai tujuan dan arti Ramadhan.

Tujuan dari dari disyariatkannya berpuasa untuk menjadi orang yang bertakwa merupakan cara Allah mengajak kita untuk meningkatkan kualitas keimanan kita. Jadi ibadah sehari-hari seperti salat lima waktu yang kita laksanakan, sedekah, berbuat baik kepada sesama, dan lain sebagainya tidak selalu cukup untuk meningkatkan ketaqwaan kita. Oleh karenanya Allah menambahkan jalan lain untuk mencapai hal tersebut yaitu dengan berpuasa di bulan Ramadhan.
Ramadan memiliki makna membakar. Maknanya sama seperti melenyapkan, menghapuskan, menghabisi, dan menundukkan. Dalam konsep Ramadhan, sesuatu yang dibakar adalah penyakit hati yang ada dalam diri kita seperti egois, iri, dengki, sombong dll. Penyakit-penyakit seperti inilah yang dapat dibakar selama bulan Ramadan ini. Selain itu, ibadah pada bulan Ramadan seperti puasa, rawih, mengaji,, dan berbagai macam zikir memiliki tujuan untuk melenyapkan berbagai penyakit hati tersebut. (PTIP)

Simalungun, 11 Maret 2025. Hakim Pengadilan Agama (PA) Simalungun Mulyadi Antori, S.H.I. menyampaikan Tausiyah Ramadhan yang dilaksanakan setelah shalat Dzuhur berjamaah di mushollah Al Hikmah PA Simalungun. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ketua, hakim, dan seluruh aparatur PA Simalungun.

Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan suatu kisah sahabat di zaman Rasullullah. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, aku merasa shalatku sering tidak khusyuk. Kadang aku mengingat urusan dunia, kadang pikiranku melayang entah ke mana. Aku takut shalatku tidak diterima oleh Allah. Apakah dengan shalat seperti itu, aku tetap mendapatkan pahala?”
Suasana majelis seketika menjadi hening. Para sahabat lainnya ikut menunduk, merasakan kegelisahan yang sama. Mereka tahu betapa beratnya pertanyaan itu. Namun, yang terjadi setelahnya benar-benar di luar dugaan. Rasulullah tidak langsung menjawab. Beliau menatap sahabat itu dengan penuh kelembutan, lalu tiba-tiba air mata mulai membasahi pipi beliau.
Para sahabat terkejut. Mereka jarang melihat Rasulullah menangis dalam situasi seperti ini.Dengan suara bergetar, beliau berkata: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh setan tidak akan pernah berhenti berusaha mencuri bagian dari sholat seorang hamba hingga ia teralihkan. Tetapi ketahuilah, Allah tetap melihat usahamu.”
Rasulullah menarik napas dalam, lalu melanjutkan, “Wahai saudaraku, jika engkau meninggalkan shalat hanya karena takut tidak khusyuk, maka setan akan menang. Tetapi jika engkau tetap berusaha shalat meski pikiranmu teralihkan, ketahuilah bahwa setiap kali engkau berusaha kembali kepada Allah dalam shalatmu, saat itulah Allah menyambutmu.”
Mendengar itu, sahabat tersebut tak mampu menahan tangis. Begitu pula para sahabat lainnya. Kemudian Rasulullah melanjutkan dengan penuh kelembutan, “Bayangkan seorang ibu yang melihat anaknya berjalan ke arahnya, tetapi anak itu sering jatuh dan tersandung. Apakah sang ibu akan marah? Tidak! Ia justru akan berlari menghampirinya, mengangkatnya, dan mendekapnya erat. Itulah Allah. Ia lebih penyayang daripada seorang ibu kepada anaknya. Selama engkau terus kembali, Allah akan selalu menerimamu.”
“Semoga seandainya ada diantara kita yang sholatnya seperti cerita diatas, kita tidak pernah lelah untuk terus melaksanakan sholat dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah yang sangat luas” ujar beliau menutup tausiyahnya. (PTIP)

Simalungun. Jumat, 7 Maret 2025. Bertempat di Ruang Sidang II Pengadilan Agama Simalungun, dilaksanakan Praktik Peradilan Semu (Moot Court) oleh Mahasiswa Magang Program Studi Hukum Ekonomi Syariah/ Muamalah dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pancabudi Perdagangan.

Pelaksanaan ujian praktik tersebut didampingi langsung oleh Hakim Pengadilan Agama Simalungun Yani Arfianti Siregar, S.H., M.Kn. Pada kesempatan tersebut, kelima mahasiswa magang yakni, Vira Eliyana, Ersa Andara, Tia Evantri Siregar, Jelita Aprilia, Habib Ali Husni diberikan satu buah kasus mengenai Cerai Talak. Selanjutnya kasus tersebut disidangkan secara bergantian. Masing-masing mahasiswa magang secara bergantian berperan sebagai Ketua Majelis, Hakim Anggota ataupun sebagai Panitera. Dalam pelaksanaan praktik ini dihadirkan pula para pihak sehingga suasana praktik terasa lebih nyata. Kelima mahasiswa tersebut terlihat sangat antusias dalam menjalankan praktik peradilan semu tersebut.

Setelah kegiatan praktik selesai, Hakim Yani Arfianti Siregar menyampaikan beberapa pesan kepada mahasiswa magang untuk tetap semangat memperdalam ilmu serta melatih soft skill,dan diperbaiki apa yang kurang dari persidangan tadi,dan tetap semangat .Adapun praktik peradilan semu tersebut dilaksanakan di akhir masa praktikum para mahasiswa magang Hal ini bertujuan untuk menambah ilmu dan pengetahuan dari mahasiswa magang mengenai perjalanan sidang dari awal hingga akhir sehingga mahasiswa dapat mengetahui serta memahami proses berperkara di pengadilan agama.(PTIP)

Simalungun, 5 Maret 2025. Hakim Pengadilan Agama (PA) Simalungun Muhammad Irsyad, S.Sy. menyampaikan Tausiyah Ramadhan yang dilaksanakan setelah shalat Dzuhur berjamaah di mushollah Al Hikmah PA Simalungun. Kegiatan tersebut dihadiri oleh ketua, wakil ketua, hakim, seluruh aparatur PA Simalungun dan adik-adik PKL.

Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa ada 4 golongan orang pada Bulan Ramadhan yaitu
- Golongan orang-orang yang sebelum Bulan Ramadhan keimanannya biasa saja. Setelah datangnya, Bulan Ramadhan ketakwaan dan keimanannya meningkat. Akan tetapi, ketika Ramadhan usai, usai juga ketaatannya;
- Golongan orang yg menganggap Ramadan biasa saja. Tidak hanya di saat bulan Ramadan, di hari-hari lain golongan ini termasuk orang yang tidak taat dalam beribadah. Bahkan di saat bulan Ramadan golongan ini tidak mengalami peningkatan keimanan;
- Golongan orang-orang yang sebelum Ramadhan amalannya standar, selama Ramadhan dia semangat, dan setelah Ramadhan ketaaatannya tetap terjaga. Bulan Ramadhan dijadikan sarana untuk berlatih untuk merubah diri menjadi lebih baik;
- Yang terakhir, Golongan orang yang sebelumnya ketaatannya sudah sangat baik. Bulan Ramadhan tidak berpengaruh karena kualitas ketakwaan dan keimanan kepada Allah karena sudah mencapai titik tertinggi dan setelah Ramadhan, ketakwaan dan keimanannya tetap terjaga. Golongan ini termasuk yang beruntung dan mendapatkan pahala dari Allah SWT
“Semoga paling tidak kita termasuk golongan yang ketiga, bukan golongan yang pertama apalagi golongan yang ketiga dan kalau harapannya kita termasuk golongan yang keempat”, ujar Beliau mengakhiri Tausiyahnya. (PTIP)

Simalungun. Selasa, 4 Maret 2025. Dalam rangka menyemarakkan dan menambah amalan-amalan di bulan suci Ramadan, seluruh aparatur Pengadilan Agama Simalungun melaksanakan ibadah shalat zuhur berjamaah yang dilanjutkan dengan tausiyah Ramadhan di Mushola Al Hikmah Pengadilan Agama Simalungun.

Pada kesempatan kali ini, Wakil Ketua Pengadilan Agama Simalungun Ibu Asri Handayani, S.H.I., M.E. menyampaikan tausiyahnya yang masih relevan dengan tausiyah sebelumnya, yakni mengenai amalan di bulan Ramadhan “Agar puasa kita tidak seperti puasa orang umum yang hanya sekedar menahan dari makan dan minum, maka kita harus dapat menahan diri dari melakukan perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa,” ujar beliau. Salah satu caranya adalah dengan mengganti perbuatan-perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa dengan melakukan amalan-amalan yang menambah pahala.

Ada dua amalan yang sangat dianjurkan untuk dibaca di Bulan Ramadhan ini, antara lain:
1. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Pahala membaca Al-Qur’an di bulan Ramadan sangat banyak dan dilipatgandakan melebihi bulan-bulan yang lain karena Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan.
2. Membaca Istighfar, Tahlil, dan Doa-Doa
Amalan lain yang sangat dianjurkan untuk dibaca pada bulan Ramadhan adalah memperbanyak membaca istighfar, dengan harapan semoga Allah bisa memberikan ampunan atas segala dosa yang pernah dilakukan. Selanjutnya, membaca tahlil dan berdoa memohon surga dan dijauhkan dari neraka, serta dzikir lainnya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits,
Rasulullah SAW bersabda yang artinya "Maka perbanyaklah di bulan Ramadhan dari (membaca) empat hal ini, yaitu dua hal meridhakan Tuhan kalian dan dua hal yang tidak akan dirasa cukup oleh kalian. Adapun dua hal yang meridhakan Tuhan kalian adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan kalian memohon ampunan kepada-Nya (membaca istighfar). Sedangkan dua hal yang tidak akan dirasa cukup oleh kalian adalah memohon surga dan memohon perlindungan dari neraka." (HR al-Baihaqi).


